Lompat ke isi utama

Berita

Puasa dan Demokrasi: Menahan Lapar, Menjaga Nurani Kebangsaan

Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu HST M. Taupik Rahman

Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu HST M. Taupik Rahman

Puasa Madrasah Etika

Setiap menjelang magrib di Bulan Ramadan, pemandangan khas selalu hadir di berbagai sudut kota hingga pelosok desa. Orang-orang berburu takjil, anak-anak kecil riang membawa gorengan, kembang api dan masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang menanti waktu berbuka.

Di tengah ritual tahunan yang sarat kedamaian ini, tersimpan sebuah pertanyaan mendalam, apa jadinya jika nilai-nilai yang kita latih selama sebulan penuh seperti menahan diri, jujur, dan berbagi juga kita praktikkan dalam kehidupan berdemokrasi?

Di sinilah puasa menemukan relevansinya yang paling kontekstual. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa adalah madrasah etika yang mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Demokrasi yang sehat, seperti halnya puasa yang berkualitas, tidak cukup hanya berjalan secara prosedural Ia membutuhkan fondasi moral yang kokoh dari setiap individu yang menjalaninya.

Puasa sebagai Latihan Pengendalian Diri

Pada intinya, puasa melatih apa yang dalam teori politik disebut sebagai self-restraint yakni kemampuan untuk mengendalikan diri. Selama lebih dari dua belas jam, orang yang berpuasa menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya diperbolehkan: makan, minum, bahkan hubungan suami-istri. Latihan ini bukan tanpa tujuan. Ia membentuk karakter yang sanggup mengatakan "tidak" pada keinginan sesaat demi tujuan yang lebih besar .

Dalam konteks demokrasi, pengendalian diri menjadi modal yang tak ternilai. Demokrasi memberi ruang bagi setiap warga untuk menyuarakan pendapat, tetapi tanpa pengendalian diri, kebebasan itu bisa berubah menjadi ajang saling hujat. Demokrasi juga memberi kesempatan bagi siapa pun untuk meraih kekuasaan, tetapi tanpa pengendalian diri, ambisi politik bisa menghalalkan segala cara.

Filsuf Bertrand Russell pernah mengingatkan bahwa demokrasi hanya dapat bertahan jika warga dan pemimpinnya memiliki kedewasaan moral untuk mengendalikan ambisi. Tanpa itu, demokrasi berubah menjadi arena konflik kepentingan tanpa batas. Puasa datang menawarkan latihan tahunan yang sistemik: menahan lapar itu mudah, tetapi menahan amarah saat dicela, menahan lisan dari kebohongan, dan menahan jemari dari menyebar hoaks, itulah ujian sesungguhnya .

Kejujuran: Titik Temu Puasa dan Demokrasi

Salah satu keistimewaan puasa adalah sifatnya yang sangat privat. Tidak ada manusia yang bisa memastikan apakah seseorang benar-benar berpuasa atau pura-pura lapar. Hanya Allah dan dirinya sendiri yang tahu. Di sinilah kejujuran menemukan bentuknya yang paling otentik: berbuat baik meski tidak ada yang mengawasi .

Nilai ini persis sama dengan yang dibutuhkan dalam demokrasi. Pemilu yang luber dan jurdil-langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, tidak akan pernah terwujud jika para aktornya tidak memiliki kejujuran internal. Politik uang, misalnya, adalah bentuk ketidakjujuran yang paling kasatmata. Ia terjadi ketika pemilih dan calon sama-sama kehilangan kesadaran bahwa suara adalah amanah, bukan komoditas.

Dalam kajian akademis, bahkan ada yang memetakan hubungan antara larangan dalam puasa dengan pelanggaran dalam pemilu. Ghibah (menggunjing) dianalogikan dengan kampanye hitam, namimah (adu domba) juga berkaitan dengan kampanye hitam, dan kidzib (bohong) identik dengan penyebaran hoaks. Semua ini adalah hal-hal yang tidak hanya membatalkan pahala puasa, tetapi juga merusak kualitas demokrasi.

Menahan Diri dari Politik Kebencian

Di era digital seperti sekarang, tantangan demokrasi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang publik justru sering berubah menjadi arena saling serang. Ujaran kebencian, fitnah, dan berita bohong menyebar lebih cepat daripada fakta. Di sinilah puasa mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan dalam konteks kekinian, menjaga jemari .

Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk "puasa digital" yaitu menahan diri dari komentar bernada kebencian, tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan menghindari debat kusir yang tidak produktif. Jika selama Ramadan kita dilatih untuk mengatakan "saya sedang puasa" ketika ingin membalas cacian, maka setelah Ramadan pun kita perlu mempertahankan refleks moral yang sama.

Keadilan Sosial sebagai Buah Puasa

Demokrasi tidak hanya tentang prosedur, tetapi juga tentang hasil, apakah sistem ini mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat? Di sinilah dimensi sosial puasa menjadi relevan. Dengan merasakan lapar, orang kaya diajak merasakan apa yang dialami fakir miskin setiap hari. Rasa lapar itu diharapkan melahirkan empati, dan empati melahirkan kepedulian nyata dalam bentuk zakat, sedekah, dan berbagi kebahagiaan .

Dalam kehidupan bernegara, semangat ini sejajar dengan cita-cita keadilan sosial. Demokrasi yang benar bukan hanya tentang memenangkan suara terbanyak, tetapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk melindungi kelompok lemah dan menciptakan pemerataan kesejahteraan. Said Abdullah, dalam sebuah diskusi buka puasa, pernah menegaskan bahwa demokrasi harus mampu menciptakan ruang yang dapat dinikmati oleh semua masyarakat, termasuk yang paling minor sekalipun .

Sayangnya, realitas menunjukkan masih adanya jurang antara cita-cita dan kenyataan. Indeks Demokrasi Indonesia 2023 dari Economist Intelligence Unit masih menempatkan Indonesia dalam kategori flawed democracy, yakni demokrasi yang berjalan secara prosedural tetapi menghadapi tantangan serius dalam hal budaya politik dan kualitas partisipasi. Krisis integritas, politik uang, dan pragmatisme kekuasaan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Menuju Demokrasi yang Berkeadaban

Jurgen Habermas, filsuf Jerman terkemuka, pernah berargumen bahwa legitimasi demokrasi tidak lahir hanya dari pemungutan suara, tetapi dari kualitas komunikasi publik yang jujur dan bebas manipulasi. Ruang publik harus menjadi tempat di mana warga negara bisa berdialog secara rasional, bukan panggung propaganda.

Nilai-nilai yang diajarkan puasa seperti kejujuran, pengendalian diri, empati, dan komitmen pada kebenaran adalah prasyarat utama bagi terciptanya ruang publik yang sehat. Ketika setiap individu memiliki integritas internal, ketika pejabat memandang jabatan sebagai amanah bukan akumulasi kepentingan, ketika pemilih menentukan pilihan berdasarkan hati nurani bukan tekanan ekonomi, maka demokrasi tidak lagi sekadar prosedur lima tahunan, tetapi menjadi budaya yang hidup.

Refleksi Akhir: Dua Ujian, Satu Titik Temu

Puasa adalah ujian personal tentang kesetiaan pada nilai. Di saat tidak ada yang melihat, kita tetap menahan lapar karena yakin Allah mengawasi. Demokrasi adalah ujian sosial tentang kesetiaan pada keadilan. Di tengah hiruk-pikuk kepentingan, kita dituntut tetap jujur dan bertanggung jawab karena menyadari bahwa negeri ini adalah rumah bersama.

Keduanya bertemu di titik yang sama, pengendalian diri dan tanggung jawab moral. Jika puasa melatih manusia untuk disiplin meski tak dipuji, demokrasi menuntut hal yang serupa, kejujuran tanpa sorotan, tanggung jawab tanpa tekanan dan integritas tanpa transaksi.

Maka, di setiap teguk air berbuka dan setiap hela napas di penghujung Ramadan, ada doa yang tak pernah usang. Semoga nilai-nilai yang kita latih selama sebulan penuh tidak berakhir saat Idul Fitri tiba. Semoga ia mengendap dalam sanubari, menjadi karakter, dan pada waktunya menjelma dalam praktik demokrasi yang tidak sekadar berjalan, tetapi bermartabat. Wallahu a'lam bishshawab.

Penulis : M.Taupik Rahman (Koordiv HPPH Bawaslu HST)

Editor : Tim Humas Bawaslu HST